Produktivitas dan Daya Saing


Koran Republika (Senin 01 Feb 2016)

Pemerintah mencanangkan peringatan Hari Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional pada 12 Januari 2016. Bulan K3 Nasional ini mengambil tema "Tingkatkan Budaya K3 untuk Mendorong Produktivitas dan Daya Saing di Pasar Internasional".Momentum ini menjadi menarik karena bertepatan dengan mulai berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Apalagi, tema yang diangkat mengaitkan budaya K3 dengan produktivitas dan daya saing di pasar internasional.Sudah jamak diketahui di dunia industri, fungsi K3 di suatu perusahaan merupakan cost center. Implementasinya menuntut perusahaan membangun sistem manajemen K3 secara terintegrasi, melingkupi sistem identifikasi, penanganan, dan monitoring risiko K3 pada semua lini perusahaan.

Berbagai investasi harus dikeluarkan untuk intervensi engineering, kontrol administratif, hingga penggunaan alat pelindung diri (APD) secara lengkap. Akibatnya, pimpinan perusahaan mesti berpikir ulang agar mau merogoh kocek perusahaan, malah sebagian besar pimpinan perusahaan cenderung tak peduli.Produktivitas --dan ujungnya laba bersih-- tetap nomor satu, K3 prioritas yang kesekian. Safety first hanya tinggal slogan. Budaya K3 terkalahkan oleh tuntutan target produksi. Hal ini berakibat pada pekerja, dan manajemen mudah mengabaikan cara kerja dan lingkungan kerja yang aman.Bukan hal mudah meyakinkan perusahaan bahwa biaya akibat tak dipedulikannya K3 jauh lebih besar. Para praktisi K3 menggambarkannya seperti fenomena gunung es. Biaya langsung yang terlihat (biaya medis, kompensasi kecelakaan, kerusakan fasilitas) dan biaya tidak langsung yang tak terlihat jauh lebih besar (biaya terganggunya produksi, penggantian pekerja baru, rusaknya motivasi kerja, rontoknya citra perusahaan).

Biaya tidak langsung bisa lebih besar 5-50 kali biaya langsung. Perlu dicatat, kecelakaan kerja yang berdampak pada kematian tentu tidak bisa dikompensasi dengan rupiah.Bagaimana potret angka kecelakaan kerja kita saat ini? Terdapat 7.249 perusahaan penerima penghargaan nihil kecelakaan kerja pada 2015. Angka ini naik 14,95 persen dibandingkan 2014 (Republika, 9 Januari 2016).Namun, laporan BPJS Kesehatan menunjukkan angka yang masih mengkhawatirkan. Jumlah kecelakaan kerja di Indonesia pada 2014 mencapai 105.383 kasus, angka yang cenderung sama dengan sebelumnya. Tingkat kecelakaan per 1.000 pekerja pada 2014 terhitung 6,28 dengan tingkat kematian per 100 ribu pekerja (fatality rate) 14,14. Bandingkan dengan Malaysia yang 4,21. Kerja-kerja besar bersama masih diperlukan.

Langkah besar pertama yang harus ditingkatkan adalah edukasi. Budaya K3 perlu ditumbuhkan dari kesadaran individu pekerja. Kesadaran tumbuh dari program edukasi yang terkelola baik. Baru kemudian berbagai dimensi budaya keselamatan kerja diwujudkan, meliputi: kemampuan dan prioritas manajemen, pemberdayaan oleh manajemen, implementasi yang berkeadilan, komitmen pekerja, persepsi pekerja, komunikasi, dan kepercayaan pekerja.

Perkembangan terbaru, budaya K3 membutuhkan dan akan lebih berkelanjutan jika didukung implementasi ergonomi di tempat kerja. Ergonomi merupakan keilmuan multidisiplin, yang memuat kerangka teoretis dan pendekatan praktis untuk mewujudkan lingkungan kerja yang aman, sehat, dan produktif dengan memanfaatkan informasi kelebihan dan keterbatasan pekerja secara individu dan kelompok.Ergonomi harus menjadi solusi bagaimana budaya K3 bisa mendorong produktivitas dan daya saing industri. Saat ini, ergonomi masih belum dipahami utuh di industri Indonesia, dan hanya bagian dari aspek kesehatan kerja. Capaian yang baru diakui adalah bagaimana ergonomi mengurangi angka penyakit akibat kerja.

Ergonomi telah dimanfaatkan berbagai perusahaan dunia (Toyota, Honda, Denso, Honeywell, Airbus, Duracell, Lockheed Martin, Siemens, Rockwell Automation) dan menorehkan kisah sukses tidak hanya meningkatkan aspek kesehatan kerja, tapi juga keselamatan dan produktivitas.Kompilasi berbagai laporan menunjukkan hasil implementasi ergonomi berupa penurunan tingkat cacat produk hingga 75 persen, penurunan waktu siklus di atas 50 persen, penurunan kehilangan hari kerja hingga 80 persen, serta peningkatan produktivitas kerja hingga lebih dari 300 persen. Implementasi ergonomi membutuhkan investasi, tapi tak harus mahal.Berbagai studi juga menunjukkan tingkat pengembalian yang ekonomis terhadap investasi K3-Ergonomi yang dikeluarkan. Mulai disuarakan bahwa "good ergonomics is good economics". Ingin sekali mendengar berbagai kisah sukses ini juga bertebaran di Indonesia.

Pemerintah perlu lebih masif mengeluarkan peraturan, standar, dan panduan penerapan ergonomi di industri. Saat ini, standar dan panduan ergonomi di industri Indonesia belum ada.Di Amerika Serikat, ada National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) dengan tanggung jawab melakukan penelitian yang berhubungan dengan pencegahan masalah kesehatan, cedera, dan kematian di tempat kerja. Selan itu, juga mengusulkan panduan, rekomendasi, dan program pelatihan yang dapat dimanfaatkan industri.

Berbagai panduan sudah dihasilkan untuk beragam jenis aktivitas kerja, yang tentu tidak bisa serta-merta diterapkan di Indonesia. Perserikatan Bangsa-Bangsa pun telah membentuk Organisasi Buruh Internasional (ILO), institusi yang membawahkan permasalahan terkait ketenagakerjaan yang mengeluarkan panduan dan standar terkait evaluasi ergonomi di tempat kerja. Namun, semua panduan dan standar ini belum tentu relevan untuk Indonesia.

Edukasi tentu tidak cukup. Pemerintah perlu memastikan peraturan, standar, dan panduan terkait implementasi K3 dan ergonomi diterapkan industri. Selain NIOSH, Amerika Serikat juga memiliki Occupational Safety and Health Administration (OSHA). Institusi ini di bawah Department of Labour yang bertanggung jawab mengembangkan peraturan serta penegakan hukum terkait K3 di industri dan mendorong industri mengadopsi dan menerapkan ergonomi di tempat kerja.

Secara konsisten pun, OSHA telah memberikan sanksi kepada perusahaan yang lalai menerapkan K3. Salah satu yang terkenal adalah sanksi kepada perusahaan minyak pada 2009 dengan denda lebih dari 87 juta dolar AS karena ledakan unit refineri pada 2005 yang menewaskan 15 pekerja.Patut kita apresiasi tema bulan K3 nasional 2016 agar budaya K3 itu mampu mendorong produktivitas dan daya saing di pasar internasional. Imbauan tentu tidak cukup. Ergonomi merupakan benang merah yang mengaitkan K3 dengan produktivitas dan daya saing industri.

Pemerintah perlu menindaklanjutinya dengan program edukasi (ergonomi) secara masif dengan melibatkan akademisi, asosiasi profesi, dan industri; penegakan peraturan melalui audit ke industri; dan evaluasi secara menyeluruh. Inilah yang dikenal dengan strategi 3E (education, enforcement, and evaluation). Semoga! 

Yassierli, PhD., Dosen ITB, Ketua Perhimpunan Ergonomi Indonesia (PEI), President of Southeast Asian Nation of Ergonomics Society (SEANES)