Selamat Datang di Ergoinstitute    |    Tahun 2009 di Indonesia tercatat 54.398 kecelakaan kerja (6.114 orang cacat dan 1.736 orang meninggal dunia)     |    Hasil studi Lab. PSK&Ergonomi ITB (2006-2007): 40-80% pekerja melaporkan adanya keluhan pada muskuloskeletal sesudah bekerja   |

Our Activity

Buku dan Buletin

Download

0646330
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
127
75
272
1712
2103
640301
646330

Your IP: 54.92.194.75
2017-12-12 21:53:25

Judul di atas memang cukup memprovokasi.  Itulah yang ditulis oleh Scott Geller sebagai sub-judul dalam jurnal Professional Safety edisi bulan Mei tahun 2000, dengan judul 10 Leadership Qualities for a Total Safety Culture.  Bagi yang belum kenal, Dr. Geller merupakan seorang pakar dan konsultan safety terkenal di USA.  Terkenal karena pendekatan psikologinya dalam safety, dan kebetulan kami satu almamater, Virginia Tech.

 

Dalam tulisannya Dr. Geller membedakan dua istilah “safety management” dan “safety leadership”.  Dia beragumentasi bahwa suatu safety leadership (bukan management) yang kuat dibutuhkan untuk membentuk budaya organisasi yang positif dalam mewujudkan suatu ‘total safety culture’. Lebih jauh beliau membahas peran seorang leader yang tidak dimiliki oleh manajer:

 

  • Leader berfokus pada proses, sedangkan manajer berkutat pada outcome (misal statistik kecelakaan kerja, yang sebenarnya mungkin jarang terjadi dan terkesan reaktif).  Adalah dua pertanyaan yang berbeda antara “Berapa total angka kecelakaan kerja?” dengan pertanyaan yang lebih berorientasikan proses seperti “Langkah apa yang diperlukan untuk menjaga agar pekerja tetap aman setiap hari?”
  • Leader melakukan edukasi, lebih dari sekedar penekanan pada prosedur dan kebijakan yang sifatnya given
  • Leader memotivasi munculnya kreativitas
  • Leader banyak mendengar, bukan speak first then listen
  • Leader memotivasi munculnya rasa memiliki dan partisipasi
  • Leader menawarkan beberapa pilihan, bukan satu.  Dengan ini muncullah kontrol individu.
  • Leader menitikberatkan pada ekspektasi, bukan mandat, dengan memberikan kebebasan pada metode dan prosedur untuk mencapainya
  • Leader terbuka terhadap masukan dan inovasi dari bawahannya.  Misalnya, seorang leader yakin bahwa potensi kecelakaan kerja bisa diantisipasi.  Tapi leader akan terbuka (tidak pura-pura tahu) bahwa dia tidak tahu secara detil karena pekerjalah yang lebih tahu
  • Leader melihat lebih dari sekedar angka.  Seorang manajer mungkin akan terjebak dengan istilah ”You can only manage what you can measure”.  Seorang leader berprinsip bahwa tidak semuanya bisa diukur, seperti: rasa percaya diri, kontrol personal, optimisme, rasa memiliki, yang semuanya membentuk suatu budaya kerja.
  • Leader tidak melihat segala sesuatu hitam-putih.

Berikut kesimpulan menarik dari Dr. Geller: ”Safety management is necessary at times to motivate people to do the right things for injury prevention.  But such activity is not sufficient to achieve a total safety culture.  Safety managers must know when to become safety leaders and build personal responsibility rather than hold people accountable.”

Budaya Safety (Safety Culture)
Istilah safety culture rasanya jarang dibahas oleh praktisi K3 di negeri kita.  Diskusi-diskusi dimilis dan forum K3 lebih didominasi oleh aspek teknis, misalnya standar K3, analisis resiko, dan pengendalian hazard.  Kecelakaan kerja yang terjadi pun sering langsung dihubungkan dengan human error atau kegagalan teknis.  Padahal hasil invesigasi tragedi kecelakaan besar di dunia seperti Three Mile Island, Chernobyl, Bhopal, mengindikasikan adanya isu yang berkaitan dengan organisasi secara keseluruhan.

Para ahli K3 sepakat bahwa struktur, iklim dan prosedur organisasi sangat mungkin mendorong terjadinya kecelakaan.  Hal inilah yang membentuk safety culture, yang terdiri dari sikap, kepercayaan, dan perilaku yang ada dalam organisasi.  Istilah safety culture ini diperkenalkan pertama kali oleh the International nuclear Safety Advisory Group (INSAG) sesudah terjadinya tragedi Chernobyl.  Safety culture merupakan bagian dari budaya perusahaan, dan secara sederhana dapat diungkapkan sebagai: ...the way we do things round here.  Definisi lengkap safety culture yang diusulkan oleh Health and Safety Commission adalah:
"The safety culture of an organisation is the product of the individual and group values, attitudes, competencies and patterns of behaviour that determine the commitment to, and the style and proficiency of, an organisation’s health and safety programmes. Organisations with a positive safety culture are characterised by communications founded on mutual trust, by shared perceptions of the importance of safety, and by confidence in the efficacy of preventative measures."

Hasil berbagai studi menunjukkan bahwa organisasi yang mempunyai budaya safety yang positif mempunyai karakteristik berikut:

  • Leadership dan komitmen dari pimpinan puncak
  • Keterlibatan manajemen dalam peran safety
  • Keterlibatan semua pekerja
  • “blame-free environment” sehingga setiap individu dapat melaporkan semua insiden yang terjadi
  • Komunikasi safety yang efektif
  • “Organizational learning” yang baik dan responsif untuk perubahan

Cooper (2000) mengusulkan model safety culture yang menggambarkan keterkaitan antara 3 komponen sebagai berikut:

image1

Perlu dicatat bahwa perbaikan budaya safety haruslah dilihat sebagai suatu proses jangka panjang dengan usaha-usaha yang sistematis.  Beberapa langkah yang bisa dilakukan:

  • Evaluasi kondisi eksisting budaya safety (dapat diukur melalui safety climate assessment atau mengacu kepada model Cooper diatas)
  • Tentukan prioritas perubahan
  • Lakukan aksi perubahan
  • Evaluasi perkembangan perubahan yang terjadi

Yassierli  
ITB, April 2007